Mei 23, 2022

Pakar Ekonomi Sirkular dari Waste4Change Bijaksana Junerosano, mengatakan ekonomi sirkular bisa menjadi solusi mengatasi permasalahan sampah. Namun, diperlukan ekosistem untuk membangun bisnis hijau. “Dengan adanya ekosistem yang membuat gerakan hijau menjadi lebih sukses,” ujarnya, pada acara program edukasi dan pelatihan jurnalistik tentang pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular yang digelar Danone Indonesia dan Greeneration, Kamis (1/7/2021). Menurut pria yang akrab disapa Sano, saat ini pengembangan ekonomi sirkular masih menemui banyak tantangan. Contohnya, adanya kecenderungan masyarakat mempertimbangkan harga dalam membeli jasa dan produk ramah lingkungan. Kemudian masih ada kebijakan yang masih belum fokus untuk pelestarian.

Sano mengatakan, ke depannya perusahaan yang bisa bertahan hanyalah perusahaan yang menerapkan ekonomi sirkular ini, karena ini terkait inovasi, pasar dan regulasi. Perusahaan yang tidak inovatif akan mati. "Saat ini kita tengah mendorong agar pemerintah mewajibkan penerapan sirkular ekonomi oleh perusahaan. Artinya, wajib bagi perusahaan untuk menerapkan energi hijau dalam menghasilkan produk," beber Junerosano. Head of Climate and Stewardship Danone Indonesia, Ratih Anggraeni mengatakan, anggaran untuk mengelola sampah di daerah memang terbatas, karena itu perusahaannya tengah mendorong mendekatkan fasilitas penyimpanan sampah ke konsumen.

"Kita kembangkan bank sampah dan sebagainya, kita juga kumpulkan sampah sampah dari pulau pulau terluar. Kita siapkan infrastruktur pengelolaan sampah yang jauh lebih baik, itu kita akan jadikan sebagai bahan baku untuk produk kita," imbuhnya. Dorong ke Perusahaan Di sisi lain, Bijaksana Junerosano juga mendorong pemerintah untuk mewajibkan implementasi ekonomi sirkular pada perusahaan yang beroperasi di Indonesia.

Bukan tanpa alasan Sano mendorong hal itu. Pasalnya, penerapan ekonomi sirkular pada lima sektor prioritas berpotensi menghasilkan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar Rp 593 triliun Rp 638 triliun pada 2030. "Adapun dampak PDB langsung pada lima sektor tersebut dapat menghasilkan hingga Rp 312 triliun," ujar Sano. Lima sektor tersebut yakni makanan dan minuman, tekstil, konstruksi, perdagangan grosir dan ritel terkait pengurangan penggunaan plastik, juga elektronik.

Selain itu, sirkular ekonomi juga mengurangi limbah kelima sektor tersebut sebanyak 15 persen hingga 52 persen dan mengurangi emisi karbon sebesar 126 juta ton, serta penggunaan air sebesar 6,3 miliar meter kubik pada 2030. Manfaat lain yang juga akan didapatkan dari penerapan sirkular ekonomi adalah terciptanya 4,4 juta lapangan kerja pada 2030, serta menghemat pengeluaran rumah tangga hingga 9 persen atau sekitar4,9 juta per tahun pada 2030. "Penerapan ekonomi sirkular di Indonesia pada lima sektor itu berkontribusi signifikan untuk mengurangi sampah dan membuat sampah dapat didaur ulang," tukas Sano.

Sano mengapresiasi upaya pemerintah dalam mendukung penerapan ekonomi sirkular, karena telah memasukkan konsep tersebut dalam Rencana Program Jangka Menengah Nasional (RPJM). Adapun pada RPJMN, prioritas nasional yang ingin dibidik dalam penerapan ekonomi sirkular yakni pertama memperkuat ketahanan ekonomi untuk pertumbuhan yang berkualitas dan merata, serta membangun lingkungan dan meningkatkan ketahanan dari bencana dan perubahan iklim. Menperin Dukung Sirkular Ekonomi

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita sebelumnya pernah mengatakan, permasalahan sampah di Indonesia sampai saat ini terus berkembang dan merupakan sebuah permasalahan yang membutuhkan solusi segera untuk diatasi secara bersama sama. Salah satu pendekatan pengelolaan sampah nasional adalah pendekatan circular economy dengan konsep yang didasarkan pada prinsip pemanfaatan kembali untuk memaksimalkan nilai ekonomi dari barang barang sisa konsumsi. “Dengan penerapan circular economy, sumber daya yang tersedia akan terus termanfaatkan melalui penggunaan material yang terus berputar dalam suatu lingkaran ekonomi sehingga dapat digunakan secara terus menerus. Salah satu wujud penerapan circular economy terhadap pengolahan sampah adalah dalam bentuk bisnis daur ulang,” paparnya.

Agus menambahkan, rantai industri daur ulang plastik merupakan circular economy yang banyak menjadi sorotan. Sektor industri ini mengolah sisa sisa kemasan sekali pakai dan barang barang plastik lainnya menjadi produk bernilai tambah, mulai dari resin daur ulang hingga produk produk jadi seperti barang barang dari plastik, tekstil, dan palet. Populasi industri daur ulang plastik di Indonesia berjumlah sekitar 600 industri besar dan 700 industri kecil dengan nilai investasi mencapai Rp 7,15 trilliun dan kemampuan produksi sebesar 2,3 juta ton per tahun dengan nilai tambah mencapai lebih dari Rp 10 trilliun per tahunnya. “Sektor industri daur ulang plastik nasional akan terus bertumbuh seiring meningkatnya konsumsi plastik dalam negeri, serta makin terbukanya pasar ekspor setelah China menutup sektor industri tersebut sejak tahun 2017,” ungkapnya.

Menperin menyampaikan bahwa masih terdapat 50 persen idle capacity industri daur ulang plastik yang dapat dioptimalkan dengan penerapan circular economy, sehingga sampah plastik dapat diolah menjadi komoditas yang dapat digunakan kembali sebagai sumber daya bernilai ekonomi termasuk untuk kemasan botol plastik PET. “Oleh karena itu, kami mendorong industri untuk terus menghasilkan produk yang berinovasi tinggi, termasuk meningkatkan pertumbuhan industri plastik nasional khusunya industri daur ulang plastik, sehingga dapat memberikan kontribusi yang nyata bagi perekonomian nasional,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.